Breaking News

Monday, September 8, 2014

Misteri Batu Berjalan di Lembah Kematian Terkuak

Misteri Batu Berjalan di Lembah Kematian Terkuak
Misteri yang menggantung sejak 1940 itu mulai terpecahkan. Bukan jin, angin puting beliung atau angin dengan kecepatan sekuat hurikan yang menggerakkan ratusan batu di atas permukaan danau kering atau playa di Death Valley, California, Amerika Serikat.

Ternyata, bergesernya batu-batu yang beberapa di antaranya berbobot hingga 320 kilogram sejauh ratusan meter itu terjadi karena kombinasi dari dorongan angin lemah sekitar 3-5 meter per detik dan lapisan es yang tebalnya tak lebih dari 3-5 milimeter yang terbentuk pada malam hari.

Tim ilmuwan yang dipimpin ahli paleobiologi Richard Norris dari Scripps Institution of Oceanography, University of California di San Diego, yang menguak rahasia selama setengah abad itu. Mereka mempublikasikan risetnya dalam jurnal PLOS ONEpada 27 Agustus 2014.

Eksperimen dilakukan pada musim dingin 2011 setelah memperoleh izin dari pengelola taman nasional. Ralph Lorenz, salah seorang penulis makalah dari Applied Physics Laboratory di Johns Hopkins University, menduga riset mereka akan menjadi eksperimen yang paling membosankan karena mereka harus menunggu sesuatu yang tak pasti.

Namun, dua tahun berikutnya, pada Desember 2013, Norris dan sepupunya, Jim Norris, yang juga terlibat dalam penelitian tersebut, tiba di Death Valley dan menemukan bahwa playa itu digenangi air sedalam 7 sentimeter. Tak lama kemudian, batu-batu mulai bergerak.

“Sains terkadang memiliki unsur keberuntungan,” kata Richard Norris. “Kami menduga harus menunggu lima hingga sepuluh tahun tanpa ada batu yang bergerak, tapi baru dua tahun proyek ini berjalan, kami kebetulan ada di sana pada saat yang tepat untuk melihat langsung peristiwa itu.”

Pengamatan mereka memperlihatkan bahwa pergerakan batu itu memerlukan sebuah kombinasi atas sejumlah peristiwa langka. Pertama, playa harus terisi air, yang kedalamannya cukup untuk membentuk es mengapung pada malam hari di musim dingin tapi juga cukup dangkal sehingga batu tetap berada di atas permukaan air.

Ketika temperatur turun drastis pada malam hari, kolam membeku dan membentuk lapisan es setipis kaca. Es itu harus cukup tipis agar baru bisa bergerak lancar, tapi juga harus cukup tebal agar tak mudah pecah.

Pada siang hari yang terik, es mulai mencair dan pecah menjadi panel-panel es besar. Angin yang berembus di playa akan mendorong batu di depannya dan meninggalkan jejak di lumpur lunak di bawah permukaan.

“Pada 21 Desember 2013, es pecah pada tengah hari, bunyi es retak dan patah datang dari seluruh permukaan kolam yang beku,” kata Richard Norris. “Saya berkata pada Jim, ‘Ini saatnya!’” Teriakan ini mengakhiri berbagai spekulasi selama lebih dari setengah abad soal batu berjalan atau bergerak di Lembah Kematian.

No comments:

Post a Comment

Designed By Blogger Templates